Rabu, 31 Oktober 2012

TUGAS 5 ARTIKEL MENGENAI REALITAS SOSIAL


ARTIKEL 1
Bentuk-Bentuk Realitas Sosial



1. Interaksi sosial : hubungan dan pengaruh timbal balik antar individu, antara individu dengan kelompok, dan antar kelompok dalam masyarakat

Dalam intraksi sosial terdapat empat sub komponen pendukung yaitu :

a.     Stimulan : suatu rangsangan yang mendorong seseorang untuk memberikan respons, yang berupa tingkah laku, penampilan, suara atau ucapan.
b.    Respons : aktivitas tanggapan yang muncul karena adanya stimulan. Dengan adanya respon dan stimulan maka terjadilah kontak sosial.
c.     Aksi : aktivitas awal yang menjadi penyebab munculnya interaksi sosial. Aksi dipengaruhi oleh simpati, sugesti, empati, dan identifikasi.
d.    Reaksi : suatu aktivitas tanggapan yang muncul setelah adanya aksi dari pihak pertama.


2. Stratifikasi sosial : penggolongan masyarakat secara hierarkis berdasarkan sesuatu yang dihargai di dalam masyarakat.


3. Diferensiasi sosial : pembedaan masyarakat secara horizontal berdasarkan ras, agama, jenis kelamin, bangsa, suku bangsa (SARA).


4. Sosialisasi : proses belajar berinteraksi seseorang atau individu di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat.


5. Proses sosial : proses interaksi dan komunikasi antar komponen masyarakat dari waktu ke waktu sehingga terwujudlah suatu perubahan.


6. Perilaku menyimpang : tindakan atau kelakuan warga masyarakat yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku. Pelaku perilaku penyimpangan disebut devian. Perilaku penyimpangan disebut deviasi. Perilaku tidak menyimpang disebut konformitas. Sumber perilaku penyimpangan yaitu :

- Aparat penegak hukum tidak berlaku secara optimal.
- Status sosial budaya dalam masyarakat semakin buruk.
- Proses pewarisan budaya yang tidak berhasil.
- Proses sosialisasi tidak sempurna.


7. Pengendalian sosial atau kontrol sosial : suatu sistem yang sengaja diciptakan oleh masyarakat untuk dijadikan pedoman berperilakuyang sudah digariskan di dalam nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat. Perangkat kontorl sosial yaitu berupa norma, lembaga, dan personel penegak hukum.


8. Pranata sosial atau lembaga sosial : sistem norma untuk mencapai tujuan yang dianggap penting bagi sebuah masyarakat. Lembaga sosial diantaranya yaitu :

- Lembaga keluarga.
- Lembaga keagamaan.
- Lembaga pemerintahan.
- Lembaga perekonomian.
- Lembaga pendidikan.


9. Nilai dan norma : Nilai adalah suatu yang abstrak yang dijadikan pedoman serta prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Norma adalah wujud nyata dari nilai yang berupa peraturan, kaidah atau hukuman.


10. Perubahan sosial budaya : munculnya corak budaya baru yang dianggap lebih ideal yang terjadi karena adanya perubahan struktur sosial dan struktur budaya sebagai akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur sosial budaya yang ada. Perubahan sosial dapat terjadi karena adanya perubahan lingkungan alam, situasi kependudukan, struktur sosial budaya, serta nilai dan sikap.


11. Kebudayaan : adalah bentuk dari budaya. Menurut Kuntjoroningrat kebudayaan dapat berbentuk :

- Artefak atau peninggalan manusia.
- Sistem aktifitas atau kegiatan manusia.
- Sistem ide/gagasan.

Secara universal 7 unsur utama kebudayaan :

1.    Sistem komunikasi/database.
2.    Sistem kepercayaan/religi.
3.    Sistem kesenian/seni.
4.    Sistem organisasi sosial/kemasyarakatan.
5.    Sistem mata pencaharian/ekonomi.
6.    Sistem ilmu pengetahuan.
7.    Sistem peralatan dan perlengkapan hidup/teknologi.



12. Status dan peranan sosial : Status sosial adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat. Peranan sosial adalah aktivitas seseorang yang disebabkan oleh status sosialnya di dalam masyarakat.




ARTIKEL 2

Konsep-konsep realitas sosial


Realitas social budaya mengandung arti kenyataan-kenyataan social budaya di sekitar lingkungan masyarakat tertentu. Misalkan di jalan raya kamu melihat orang berlalu-lalang, baik yang mengendarai kendaraan bermotor atau para pejalan kaki. Contoh tersebut dikenal sebagai realitas social di masyarakat. Sebagai kumpulan mahluk yang dinamis, kita senantiasa menemukan realitas social dalam masyarakat.
Masyarakat terbentuk karena manusia menggunakan pikiran, perasaan dan keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai dua kinginan pokok yaitu, keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menyatu dengan lingkungan alamnya.
Menurut Soerjono Soekanto, merumuskan beberapa ciri masyarakat sebagai berikut:
Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama. Tingkatan hidup bersama ini bisa dalam dimulai dari kelompok 
Hidup bersama untuk waktu yang cukup lama. Dalam hidup bersama ini akan terjadi interaksi. Interaksi yang berlangsung terus menerus akan melahirkan sistem interaksi yang akan nampak dalam peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara manusia.
Mereka sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan
Mereka merupakan satu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya. 

v Masyarakat sebagai system social 
• Sistem social 
Adalah suatu system yang terdiri dari elemen-elemen social yang terdiri dari ; tindakan social yang dilakukan individu yang berinteraksi satu dengan lainnya dan bersosialisasi sehingga tercipta hubungan-hubungan sosial. Keseluruhan hubungan sosial tersebut membentuk struktur sosial dalam kelompok maupun masyarakat yang akhirnya akan menentukan corak masyarakat tersebut.
• Struktur sosial
Struktur sosial mencakup susunan status dan peran yang terdapat di dalam satuan sosial, ditambah nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur interaksi antar status dan peran sosial. Didalam struktur sosial terdapat unsur-unsur sosial, kelompok-kelompok sosial dan lapisan-lapisan sosial. Unsur-unsur sosial terbentuk, berkembang, dan dipelajari oleh individu dalam masyarakat melalui proses sosial. Proses sosial adalah hubungan timbal balik antara bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat dan memahami norma-norma yang berlaku.
v Organisasi Sosial
Organisasi sosial adalah cara-cara perilaku masyarakat yang terorganisir secara sosial. Dengan kata lain, organisasi sosial merupakan jaringan hubungan antar warga masyarakat yang bersangkutan di dalam suatu tempat dan dalam waktu yang relatif lama. Di dalam organisasi sosial terdapat unsur-unsur seperti kelompok dan perkumpulan, lembaga sosal, peranan dan kelas-kelas sosial.
Kelompok sosial adalah kumplan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi.
Klasifikasi kelompok sosial menurut Robert Bierstedt :
a. kelompok sosial yang teratur:
1. in-group dan out-group
In-group adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasi dirinya dalam kelompok tersebut, biasa disebut dengan ”kita”. Sifat in-group biasanya didasarkan pada faktkor simpati dan kedekatan dengan anggota kelompok. Out-group adalah kelompok yang diartikan oleh individu sebagai lawan in-groupnya, biasanya dikenal dengan “mereka”.
2. kelompok primer dan sekunder
Menurut Cooley kelompok primer adalah kelompok kecil yang anggotanya memiliki hubungan dekat, personal, dan langgeng, contohnya keluarga. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang lebih besar, bersifat sementara, dibentuk untuk tujuan tertentu dan hubungan antar anggota bersifat impersonal sehingga biasanya tidak langgeng, misalnya, kesebelasan sepak bola.

3. paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan (gesselschaft)
Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama yang anggotanya terikat oleh hubungan batin murni dan bersifat alamiah serta kekal. Hubungannya didasari oleh rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang telah ditakdirkan. Bentuk ini dapat ditemui dalam keluarga, kelompok kekerabatan. Paguyuban mempunyai ciri-ciri hubungan akrab, bersifat pribadi dan eklusif.

Menurut Ferdinand Tonnies, di masyarakat selalu dijumpai salah satu dari tiga tipe paguyuban, yaitu :

a. Paguyuban karena ikatan darah, seperti keluarga, kekerabatan, kesukuan,dan lain-lain.

b. Paguyuban karena tempat, seperti rukun tetangga, rukun warga, dan lain-lain.

c. Paguyuban karena pikiran/ideologi, seperti pergerakan mahasiswa, parta politik, dan lain-lain. 
Patembayan adalah ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya hanya untuk jangka waktu yang pendek. Patembayan bersifat sebagai suatu bentuk yang ada dalam pikiran belaka,misalnya, ikatan antar pedagang, 

4. kelompok formal dan informal
Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesamanya. Contohnya, birokrasi, perusahaan, negara.
Informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur yang pasti, terbentuk karena pertemuan yang berulang-ulang sehingga terjadi pertemuan kepentingan dan pengalaman. Contohnya, klik (ikatan kelompok terdekat atau pertemanan). 

5. Membership group dan Reference group
Membership group adalah suatu kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggotanya.
Reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang untuk membentuk kepribadian dan perilakunya.

b. Kelompok sosial yang tidak teratur yaitu, kerumunan dan publik.
Kerumunan (crowd) adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat dan pada waktu yang bersamaan. 
Publik adalah orang-orang yang berkumpul yang mempunyai kesamaan kepentingan.
Peranan adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sesuai dengan kedudukannya.

v Dinamika Sosial
Dinamika sosial adalah penelaahan tentang perubahan-perubahan yang terjadi didalam fakta-fakta sosial yang saling berhubungan satu dengan lainnya, meliputi pengendalian sosial, penyimpangan sosial, mobilitas sosial, dan perubahan sosial.

v Masalah Sosial
Masalah sosial adalah gejala atau fenomena sosial yang tidak sesuai antara apa yang dikehendaki masyarakat dengan apa yang terjadi. Beberapa masalah sosial penting yang sering muncul dalam kehidupan di masyarakat diantaranya; kemiskinan, kejahatan, disorganisas keluarga, masalah remaja, masalah kelainan seksual dan masalah kependudukan.

Sumber: 
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2045195-konsep-realitas-sosial/#ixzz0YXh3s4wg




TUGAS 3 ANALISIS KORAN MENGENAI KELOMPOK SOSIAL


BANGKOK, KOMPAS.com — Ketangguhan tim nasional U16 Indonesia di ajang Pra Piala Asia 2012 bakal diuji oleh Myanmar pada laga pembuka di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Senin (12/9/2011) pukul 18.00.


Jika tim besutan pelatih Indra Syarif itu mampu meraih tiga poin, hasil itu akan mempermudah langkah ke final. Myanmar akan menjadi lawan pertama Timnas U16 Indonesia di Grup G Pra Piala Asia 2012.

Kemenangan menjadi penting diraih untuk memuluskan langkah tim asuhan pelatih Indra Safri ini dalam upayanya meneruskan tradisi lolos ke putaran final Piala Asia U16. Dalam dua edisi Piala Asia U16 sebelumnya, Indonesia selalu lolos ke putaran final.

Kali ini perjuangan Indonesia untuk mengulangi sukses tersebut memang lebih berat karena Indonesia harus bersaing dengan tim kuat seperti Australia, Thailand, Myanmar, Hongkong, dan Guam di Grup G. Australia dan tuan rumah Thailand adalah lawan terberat bagi Indonesia.

Sedangkan jatah tiket lolos ke putaran final hanya juara dan runner-up grup. Melihat peta kekuatan lawan tersebut, Indra Syarif meminta pemainnya untuk benar-benar fokus pada laga perdana lawan Myanmar. Kemenangan bisa menjadi modal kuat untuk menatap laga selanjutnya.

”Para pemain sudah siap tempur menghadapi Myanmar. Beruntung, tidak ada masalah dengan cuaca maupun tempat pertandingan. Yang penting para pemain bisa fokus dan konsentrasi sepanjang pertandingan,” ujar Indra dalam siaran pers PSSI, Minggu (11/9) dini hari.

Meski optimistis, Indra tidak ingin terlalu membebani pemainnya dengan target yang berat. ”Ini pemain muda, fokus utama adalah pembinaan. Meski tidak ada target, saya percaya selama kita tampil maksimal, hasilnya juga akan terbaik. Saya sudah menerima semua laporan soal pertandingan nanti, termasuk karakteristik stadion hingga iklim, dan saya melihat pemain sudah siap,” kata Indra.

Sebelum mengikuti Pra Piala Asia U16 ini, timnas menjalani tujuh kali laga uji coba melawan tim lokal yang usianya dua hingga lima tahun lebih tua. Timnas U16 sukses membukukan enam kemenangan dari tujuh laga. Dengan agresivitas gol mencapai hampir 18 gol dan hanya kebobolan empat gol.

TUGAS 4 GAMBAR REALITAS SOSIAL





Pasar tradisional merupakan salah satu contoh masyarakat yang masih berpegang teguh dan melestarikan budaya asli.
Bagaimana menurut anda ?

Sangat berbeda dengan pasar modern yang telah terpengaruh oleh budaya luar. Pasar (supermarket) ini cenderung mengakibatkan stratifikasi sosial lebih terlihat. Secara realitas, hanya orang yang memiliki uang banyak yang lebih banyak mengunjungi.


Kamis, 27 September 2012

TUGAS 1 Hal 151 AKTIVITAS


 MASYARAKAT MAYORITAS DAN MINORITAS
Sudah lama kita hendak diyakinkan dan dibohongi, bahwa dalam masyarakat Pancasila kita tidak mengenal golongan mayoritas dan golongan minoritas. Sudah saatnya kita berhenti bermain sandiwara dan membohongi diri sendiri seperti itu.
Yang penting adalah bagaimana kita dapat hidup damai dengan kenyataan adanya berbagai golongan dalam masyarakat kita, mayoritas maupun minoritas. Lebih penting lagi, bagaimana kita menjalin hubungan serta kerjasama secara damai, saling menerima, saling menghormati, dan saling membantu, antara berbagai golongan itu dalam masyarakat sebagai suatu bangsa.
Tujuan utama menjalin hubungan demikian itu adalah menghilangkan prasangka dan kebencian. Hanya dengan itu kita dapat bersama-sama mengusahakan kesejahteraan bersama.Jalan ke arah tujuan itu amat jauh, berliku-liku, dan banyak sandungannya.
Kesulitan mencapai tujuan itu pernah digambarkan demikian. Seorang perantau bertanya kepada seorang penduduk desa tentang jalan menuju suatu kota yang menjadi tujuan berikutnya. Jawabnya, “Terus saja ke selatan, lalu belok ke kiri. Oh, maaf, jangan, jembatannya rusak di situ. Ikuti saja jalan ke timur. Eh, jangan, jalan itu terlalu berlumpur.”
Orang desa itu lalu menengadah ke langit, seakan berpikir. Lalu katanya : “ Kalau hendak ke kota itu, mestinya Bapak tidak mulai dari sini.”
Masalah mayoritas-minoritas ini sejak kerusuhan tgl.13-14 Mei yang lalu telah semakin menonjol dan menjadi perhatian dan bahan pembicaraan luas, khususnya yang menyangkut orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa. Dapat diduga, lebih banyak dari kalangan mereka ini dartipada kelompok orang-orang lain, minoritas ataupun mayoritas, yang menjadi korban penjarahan, pembakaran rumahnya, pembunuhan, penganiayan, dan perkosaan, yang pasti mengakibatkan penderitaan dan trauma yang bisa berlangsung lama.
Saya belum berani banyak berbicara tentang hal ini, karena memang sedang mulai mempelajarinya lagi, melakukan refleksi, dan tukar-menukar pikiran tentang masalah mayoritas-minoritas ini.Harus saya akui pula sejak awal, bahwa lebih mudah bagi orang seperti saya ini berpretensi berpikir lebih jernih, rasional dan objektif, karena beruntung musibah seperti itu tidak menimpa keluarga ataupun saudara dan teman-teman dekat saya.
Saya juga sadar, berbicara tentang masalah mayoritas-minoritas, apalagi di negeri ini, saya memasuki suatu bidang yang penuh kepekaan, emosi, dan kontroversi. Tetapi kejujuran, keterbukaan, dan kehendak baik yang mendasarinya memberi saya keberanian untuk melakukannya.
Menghindarinya dan pura-pura masalah itu tidak ada, menggunakan pendekatan “burung unta”, pasti tidak akan membantu memecahkannya. Itulah sikap kita selama ini, juga dalam banyak hal lainnya.
Tentu saja, golongan atau kelompok minoritas di Indonesia ini bukan hanya mereka yang kebetulan keturunan Tionghoa. Ada juga kelompok-kelompok minoritas atas dasar agama, suku, budaya, atau bahasa. Orang-orang yang beragama Buddha, Hindu, Katolik, Kristen-Protestan, atau suku Batak, Toraja, Aceh, dsb., juga merupakan kelompok-kelompok minoritas.Tetapi anehnya, mungkin karena sejarah dan berbagai faktor lainnya, kelompok Tionghoa inilah, kelompok ras, yang selalu menjadi atau dijadikan masalah minoritas yang paling menonjol, meskipun terdapat kelompok-kelompok ras lainnya seperti kelompok Arab.
Ada keanehan lain. Manakala orang berbicara tentang “mayoritas” di negeri ini, orang biasanya menunjuk mayoritas Islam. Saya belum faham benar, mengapa demikian. Sebelum agama Islam masuk ke Indonesia, sudah ada mayoritas etnis, yaitu suku Jawa, yang sampai sekarang masih merupakan mayoritas, konon kira-kira 40% dari jumlah penduduk Indonesia.
Tetapi lama kelamaan saya duga identitas kelompok-kelompok etnis ini semakin sulit dikenali. Saya berharap hal itu akan berlaku juga pada golongan minoritas Tionghoa, kalaupun lebih sulit.
Tujuan integrasi bangsa, atau pembauran kalau kita berbicara tentang golongan minoritas Tionghoa, tidak berarti harus hilangnya identitas ras atau etnis, meskipun dapat terjadi secara alamiah. Bagi golongan agama, hal itu mungkin mustahil terjadi.
Sebenarnya tidak mudah memberi definisi golongan minoritas. Dapat dikatakan, golongan-golongan minoritas adalah golongan-golongan yang anggota-anggotanya mengalami perlakuan-perlakuan diskriminatif dan seringkali ditempatkan pada kedudukan yang relatif rendah dalam struktur status dari sistim sosial. Status golongan minoritas secara khusus terkaitkan dengan latar belakang ras, suku, agama, budaya, atau bahasa.
Kaitan dengan berbagai latar belakang itu penting. Dari segi jumlah, apa yang kita mengerti sebagai “golongan atas”, bahkan “menengah atas”, entah dari segi kekayaan, pendidikan, atau kekuasaan, mereka itu juga merupakan “minoritas”. Meskipun begitu, mereka itu tidak biasa disebut kelompok minoritas dalam pengertian yang sama ketika kita berbicara tentang minoritas Tionghoa atau Kristen di Indonesia.
Contoh-contoh “minoritas” seperti itu di antaranya adalah pemerintahan Presiden Saddam Hussein di Irak, yang berasal dari minoritas Islam Suni. Di Yordania, pemerintahan Raja Hussein berasal dari minoritas Beduin. Rezim apartheid di Afrika Selatan dulu adalah kelompok minoritas kulit putih.

Selasa, 25 September 2012

TUGAS 2 Hal 151 ANALITIKA



DI FATUULAN, GENERASI MUDA DAN TUA BERJARAK, KEMUDIAN BERSAMA

     Membicarakan pemuda seperti memacak diri di depan kaca karena bagi kelompok yang lebih muda, kegiatan ini bisa menggugah mereka untuk melakukan sesuatau yang lebih baik di waktu mendatang. Sebaliknya, bagi anggota masyarakat yang berusia tua, hal ini seperti mengkilas balik hidup mereka dan membandingkannya dengan yang sekarang. Hal itulah yang terjadi di Desa Fatuulan, 12 Agustus 2005 yang lalu, ketika sebanyak 164 anggota masyarakat berkumpul dan memperingati Hari Pemuda Sedunia.
     Di desa yang terletak di kecamatan Kie ini, CWS Indonesia mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu, dibentuk kelompok masing-masing yang mendiskusikan masalah-masalah kepemudaan yang terjadi di desa Fatuulan, apa penyebabnya, dan begaimana pemecahannya. Menarik sekali memperhatikan jawaban-jawaban yang terlontar apalagi karena mereka yang berdiskusi, berasal dari generasi-generasi yang berbeda. Hal yang menjadi masalah bagi kelompok generasi muda ternyata berbeda jika dilihat dari kaca mata tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah.
     Minuman keras misalnya menempati prioritas pertama yang dianggap pemuda sebagai masalah, sedangkan bagi kelompok pemerintah dan tokoh agama masalah utama dalam masyarakat adalah masalah hamil di luar nikah. Mereka malah tidak melihat minuman-minuman keras sebagai masalah. Jadi, memang harus diakui, hal ini menunjukan bahwa ada jurang yang cukup besar antara generasi muda dan tua.
     Perbedaan pandangan antar generasi jugalah yang terlihat ketika mereka mendiskusikan masalah hamil di luar nikah. Pemuda melihat masalah itu sebagai kurangnya perhatian dari orangtua dan tidak adanya persetujuan dari orangtua atas pasangan yang dipilihnya. Sementara, kelompok yang lebih tua memandang bahwa masalah itu disebabkan oleh pemuda itu sendiri yang terlalu bebas bergaul, atau penipuan dari laki-laki yang meniru perempuan yang diincarnya. Lagi-lagi, tampak perbedaan sudut pandang antar dua generasi ini. Demikian juga dari sisi solusi. Pemuda mengharapkan adanya komunikasi yang lancar dari orangtua untuk memecahkan masalah ini. Generasi tua umumnya, mengambil jalan 'pembinaan' sebagai penyelesaiannya.
     Nah, kasus di atas hanya secuil dari segudang fakta yang menggambarkan jarak antara pemuda dan generasi sebelumnya. Masih ada lagi hal lain, seperti pemuda merasa selama ini tidak dilibatkan dalam rapat-rapat desa. Hal ini kemudian ditanggapi positif oleh kelompok pemerintah dengan mengajak para pemuda untuk membentuk badan pengurus pemuda tingkat desa, sehingga aspirasi mereka tertampung.
     Akhirnya, aktivitas yang berlangsung dengan kritis selama 6 jam dan diikuti 74 orang pemuda serta 90 orang generasi tua ini, ditutup dengan berdansa poloneis. Dansa poloneis merupakan tarian rakyat Timor, sebagai tanda kebersamaan antar dua generasi, bukan untuk berjarak.

sumber: www.cwsindonesia.or.id, 12 Agustus 2005

Pertanyaan:
1. Apa yang menjadi penyebab perbedaan cara pandang antara kelompok generasi tua dan kelompok generasi muda?
Jawab: Perbedaan zaman dan perkembangan teknologi, serta tradisi dan budaya sosial sekitarnya.
2. Bagaimana pola hubungannya?
Jawab: Keduanya cenderung lebih sering mengalami kesalahpahaman karena perbedaan pandangan.
3. Apa solusi terbaik agar kedua kelompok dapat hidup dinamsi dan harmonis?
Jawab: Kedua kelompok tersebut harus saling menghargai dan menghormati, menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan saling toleransi.